Misuh itu Sudah Biasa, Tapi Tetap Dosa


Misuh memang sudah biasa, tapi perlu diingat bahwa misuh adalah perkataan kotor dan berkata kotor itu tetap tidak baik dan dosa.

Di sebuah warung pecel kecil yang terletak di pinggir jalan di depan Hotel Ambarukmo, saya membeli sepiring nasi pecel. Warung yang cukup terkenal seantero Jogja karena rasanya dan (mungkin) juga legendarisnya.

Segerombolan anak datang dengan masing-masing membawa tas ransel di pundaknya. Jika dilihat dari penampilannya mereka adalah seorang pelajar atau mahasiswa, yang tentu memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada orang pada umumnya.

Mereka di tengah kerumunan berbincang banyak hal sebelum memesan pecel, sampai terdengar suara yang tidak asing dan sering saya ucapkan. Tapi untuk kali ini saya merasa terganggu. Begitupun bapak-bapak kumisan di sampingku, yang kemudian melirik segerombolan pria yang berpenampilan rapi tersebut.

Kata tersebut adalah pisuhan khas Jawa Timuran yaitu janc*k. Mereka mengucapkan kata itu di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang makan. Mungkin sebagian dari mereka akan berkata “ah sudah biasa”. Tapi tidak semua orang akan bisa memaklumi blunder yang disengaja itu.

Saya sendiri cukup kaget. Pasalnya anak muda itu mengucapkannya tidak hanya sekali, dan juga tidak diucapkan dengan nada yang lirih.

Ya benar, mereka mengucapkan kata itu dengan keras dan berkali-kali. Seakan ingin menunjukkan bahwa mereka adalah kelompok yang asik dan open minded, atau mereka penganut madzab freedom of speech.

Dan benar saja, setelah memesan pecel, mereka terus mengucapkan kata pisuhan itu saat duduk bersama orang lain yang juga sedang makan. Saya merasakan kecanggungan yang timbul saat itu.

Lirikan para bapak-bapak kumisan nampak seperti lirikan sinis yang kalau halal, ingin sekali menempeleng kepala gerombolan tersebut satu persatu.

Misuh adalah hal yang biasa bagi anak muda. Apalagi dalam ruang lingkup pertemanan yang sudah sangat akrab. Gunanya ada banyak, bisa untuk sekedar melampiaskan perasaan yang susah diungkapkan dengan kata yang ada di KBBI, atau juga sebagai media untuk mengungkapkan keakraban di antara muda-mudi di dalam kelompok pertemanan yang intim.

Tapi yang perlu diketahui anak-anak muda tersebut adalah, bahwa bukan begitu cara misuh yang tepat. Misuh memang sudah biasa, tapi perlu diingat bahwa misuh adalah kata kotor dan berkata kotor itu tetap tidak baik.

Adapun pemakluman terhadap “dosa” misuh tersebut bisa dilakukan ketika kita berada dalam lingkungan yang bisa kita kendalikan.

Jika kita di halte bus, di dalam angkot, di rumah makan yang ada banyak orang, atau di tempat lain yang ramai, maka misuh dengan lantang adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan.

Tanpa kita sadari, bisa jadi tindakan tersebut justru menjerumuskan dan malah memperburuk citra kita sendiri.

Baca Juga : Lebaran Tidak Asik Tanpa Mudik, THR, dan Baju Baru

Kita tidak bisa mengontrol orang untuk berpikiran apapun terhadap kita, paling tidak kita bisa mengontrol perilaku kita supaya orang tidak sempat memikirkan apapun tentang diri kita, terlebih berpikiran negatif.

Asumsi ini bukan lahir dari orang yang tidak pernah misuh, juga buka lahir dari orang yang membenci ucapan kotor. Saya sendiri pun sering menggunakan kata itu untuk mengekspresikan diri kepada kawan saya, bahkan kepada pasangan saya.

Tapi saya percaya, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk membawa budaya lokal kita untuk diterapkan atau bahkan dipaksakan terhadap budaya di tempat lain.

Di Jawa Timur, sebagai sebuah tempat yang (katanya) banyak orang menggunakan pisuhan sebagai metode keakraban, jarang saya lihat seorang anak muda yang misuh atau memamerkan kata pisuhan di depan orang-orang yang tidak pantas untuk mendengar kata itu.

Orang hanya tahu bahwa misuh itu sudah biasa, tapi banyak orang yang tidak tahu bahwa misuh tetap dosa.

Maka dari itu, pemahaman terkait apa saja syarat misuh dan bagaimana tata cara misuh dengan tepat itu lebih penting daripada mengetahui kata misuhnya itu sendiri.

Ketika orang sudah paham itu, mereka akan menggunakan kata pisuhan itu secara tepat. Tidak lagi merasa keren setelah misuh, tidak lagi memperdengarkan pisuhan kepada orang lain yang sebenarnya tidak pantas mendengarnya, dan tidak lagi misuh sebelum belajar dan mengucapkannya secara fasih. ehh

Misuh itu tidak dilarang, tapi alangkah lebih baik manfaatkan kata itu untuk pengekspresian diri yang lebih relevan. Jangan seperti Spongebob dan Patrick yang memisuhi semua orang di Krusty Krab setelah mereka mendengar pisuhan dan tertarik dengan hal (baru) itu.

Tuan Krab marah mendengar itu, tapi bukan berarti Tuan Krab tidak pernah mengucapkannya. Ia hanya mengajari Spongebob dan Patrick untuk tidak mengucapkannya secara sembarangan. Meskipun pada akhirnya Tuan Krab mendapat hukuman dari sang ibu ketika mengucapkannya.

Baca Juga: Dilema Anak Kost Perihal Sehat di Bulan Puasa

Belum ada Komentar untuk "Misuh itu Sudah Biasa, Tapi Tetap Dosa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel