Islam dan Komunis yang Sempat Diperjuangkan untuk Disatukan


Islam dan komunis adalah sebuah faham yang bertentangan, namun keduanya sempat berusaha untuk disatukan.

Ketika ada bahasan mengenai komunis, maka di pikiran semua orang adalah mengenai doktrin dan ajarannya (yang ilegal). Namun kita semua tidak bisa menutup mata terhadap lika-liku sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah perjalanan sejarah komunis dan Islam.

Dua hal yang bertolak belakang menurut penalaran manusia tentu tidak memungkinkan untuk bisa disatukan. Namun, beda halnya dengan fenomena perjalanan sejarah di Indonesia pra-kemerdekaan yang satu ini.

Islam dan komunisme, merupakan dua hal yang sangat bertolak belakang, namun sempat berusaha untuk disatukan oleh beberapa tokoh terkemuka pada waktu itu. Tepatnya pada awal abad ke-20.
Tentu bersatunya bukan karena hal yang kemudian dianggap sebagai singkretisme. Akan tetapi lebih kepada penyatuan yang mencoba mencari titik temu di antara keduanya.

Islam merupakan sebuah ajaran yang di dalamnya mengandung unsur-unsur ketauhidan. Islam memberikan keselamatan bagi para pemeluknya. Mensyariatkan untuk menyembah Allah dan taat terhadap Rasul Allah. Islam memiliki dasar sebagai pedoman untuk menjalankan agama. Yaitu kitab suci Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa banyak dari para tokoh Islam menentang adanya komunis. Komunis bagi tokoh-tokoh Islam sangat ditentang dan bahkan anda bisa menemukan buku karya Ali Shariati berjudul Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat Pikir Barat Lainnya.

Dari judulnya saja kita sudah bisa menebak kemana arah yang ingin dibawa oleh Ali Shariati dalam memberikan pendapatnya terkait dengan Marxisme (komunisme).

Ketika Islam mengajarkan demikian, komunisme sebenarnya bukan lahir sebagai respon atas adanya Islam. Makanya keduanya bukan sebuah kontradiktif yang secara jelas bisa dijelaskan secara gamblang.

Komunis lahir sebagai respon atas adanya kapitalisme. Kapitalisme yang tentunya ditawarkan oleh Barat dan hal tersebut tentunya berdampak pada “yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin”

Maka dari itu, komunis sangat menentang kapitalis. Karena komunis lahir untuk melindungi hak-hak kaum bawah yang dieksploitasi oleh kaum kapitalis Barat. Nama lain (yang lebih santun) dari gerakan komunis adalah sosialis.

Apabila dilihat dari penjelasan di atas, dari segi ideologi, komunis memiliki lawan yaitu kapitalis. Tapi di sisi lain, komunis juga merupakan faham yang berlawanan dengan Islam.

Analisa dangkal saya berkata, bahwa secara normatif komunis berpendapat bahwa kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat (manusia). Bisa dikatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan dan seterusnya.

Itu artinya dimanakah kedudukan wahyu yang notabene wahyu adalah suara Tuhan?
Hal tersebut bisa jadi yang menjadi alasan mengapa komunis sangat ditentang oleh banyak pihak, termasuk yang paling keras adalah kelompok Islam.

Namun di Indonesia, yang diawali di kota Semarang. Komunis bisa diterima oleh sebagian orang yang beragama Islam. Komunis bahkan berekspansi ke tubuh Sarekat Islam. Dari namanya saja kita pasti faham arah perjuangan organisasi tersebut.

Sarekat Islam Semarang yang saat itu dipimpin oleh tokoh bernama Semaun mendapatkan pengaruh dari orang Belanda bernama Sneevliet yang mendirikan organisasi ISDV.

Organisasi tersebut (ISDV) mengatasnamakan sebagai sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial. Bahasa singkatnya ISDV adalah organisasi sosialis (yang mendukung agenda-agenda komunis)

Bahkan Semaun adalah tokoh yang mendirikan organisasi yang sangat kontroversial yaitu Persyerikatan Kommunist di Hindia (PKH).

Adapun Sarekat Islam (SI) adalah sebuah organisasi yang dulunya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Dari namanya kita pasti bisa tahu, bahwa kata Dagang, artinya adalah pedagang. Dan profesi pedagang dalam bahasa sejarah diartikan sebagai kelompok menengah kebawah.

Maka menurut tokoh Islam pendukung agenda komunis, di sinilah titik temu antara komunis dan SI.
Orang yang sangat mendukung gagasan ini adalah H. Misbach, seorang Mubaligh yang lahir dan berjuang di Surakarta. Ia terkenal dengan gagasannya yaitu Komunisme Islam, dan dijuluki sebagai Hadji Merah.

H. Misbach seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa ia adalah tokoh yang mencampuradukkan antara ideologi komunis dan Islam, mengingat dia adalah seorang yang lahir dan besar dikalangan religius dan juga mendukung agenda-agenda komunis.

Pemikiran tersebut dari dulu hingga sekarang juga penuh perdebatan. Kekuatan H. Misbach disokong oleh kedudukannya sebagai pemimpin redaksi Medan Moeslimin. Artinya dengan diterbitkannya tulisan-tulisan Misbach di surat kabar tersebut yang bertemakan Islam dan komunis akan langsung bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

Menariknya, argumen Misbach yang menggabungkan antara Islam dan komunisme tersebut dilegitimasi oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits nabi yang sering ia kutip.

Salah satu hadits nabi yang sering ia gembor gemborkan adalah anjuran untuk membayar upah sebelum keringat kering. Hadits tersebut kata Misbach membuktikan bahwa Nabi Muhammad sangat perduli terhadap kaum buruh, dan kaum bawah.

Hal itu yang juga tengah diperjuangkan oleh Misbach untuk mengatakan kepada publik bahwasanya komunis tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan bisa untuk dipersatukan.

Sekali lagi bahwa kita kita tidak bisa menutup diri dari fenomena sejarah yang pernah terjadi. Maka dari itu, pentingnya belajar dari hari kemarin adalah untuk mengendalikan apa yang akan terjadi di hari esok.

Belum ada Komentar untuk "Islam dan Komunis yang Sempat Diperjuangkan untuk Disatukan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel