New Normal, Langkah Strategis atau Ekspresi Pesimistis?


New normal adalah langkah strategis dalam menyikapi masalah ekonomi yang tidak terprediksi. 
 
Awalnya, presiden mengumumkan bahwa kita harus berperang melawan Virus Corona. Tapi akhir-akhir ini, hal itu direvisi dengan mengatakan kepada publik bahwa kita harus hidup berdamai dengan Virus Corona.

Memang terasa agak aneh, karena hal itu mencerminkan sikap yang tidak konsisten. Dan biasanya hal itu kemudian akan berdampak pada penerapan kebijakan.

Orang-orang berkata banyak hal di sosial media. Mulai dari yang menjelaskan secara ilmiah terait dengan penyebaran yang akan semakin masif ketika terjadi pelonggaran aktivitas, sampai pada pengungkitan masalah politik.

Semua orang beramai-ramai untuk berpendapat, sehingga hal itu membuat saya bertanya-tanya, orang-orang kenapa pinter-pinter banget, sih?

Tapi tidak sedikit juga yang mendukung himbauan untuk berdamai dengan Virus Corona. Ada banyak orang yang setuju dan menyambut baik keputusan tersebut di sosial media. Saya tidak tahu dan tidak mencari tahu latar belakang (di profil) mereka. Tapi dari sekian banyak opininya, mereka mendukung karena alasan ekonomi.

Kondisi ekonomi kita saat pandemi ini mulai memasuki masa yang sangat mengkhawatirkan. Daya beli menurun, banyak PHK, UMKM banyak yang gulung tikar, dan masalah lain yang dialami oleh para pelaku ekonomi.

Memang benar jika diberi pilihan untuk memilih sehat atau banyak uang, orang akan lebih banyak memilih untuk sehat. Tapi bukan berarti mencari uang sama dengan membiarkan diri kita menjadi tidak sehat.

Jika Virus Corona mendatangkan masalah yang sangat besar dan wajib untuk ditumpas dan diselesaikan, masalah perut juga harus mendapatkan perhatian. Karena pembiaran terhadap perputaran ekonomi di sebuah negara hanya akan menambah persoalan baru yang lebih parah daripada kesehatan. Kejahatan, pencurian, dan (bahkan) penjarahan adalah pemandangan yang akan terjadi ketika orang banyak yang kelaparan.

Data menunjukkan bahwa banyak karyawan yang di-PHK. Total keseluruhan per tanggal 29 April 2020, jumlah karyawan di PHK, dirumahkan dan diliburkan totalnya mencapai 7.476 orang.

Bayangkan jika ribuan orang tersebut memiliki anak dan istri, maka akan ada 7.476 dikali tiga, orang yang tidak berpenghasilan dan berpeluang mengalami kemiskinan. Dan itu hanya dalam satu hari. Bagaimana jika 100 hari?


Indonesia dan masyarakat Indonesia tidak selamanya bisa bengantung pada bantuan dan sumbangan dari orang lain. Ratusan miliyar uang yang digelontorkan pemerintah untuk menutupi kebutuhan warga miskin yang tidak bisa bekerja karena terdampak Virus Corona tidak akan pernah cukup.

Bahkan puluhan miliyar sumbangan dari masyarakat yang setiap harinya dibagikan kepada orang-orang dipinggir jalan juga tidak akan menolong mereka dalam jangka waktu yang panjang. Sedangkan  pandemi ini diprediksi tidak akan berakhir dalam waktu yang cepat.

Satu-satunya pertolongan yang tepat adalah dengan memberikan orang-orang izin untuk bekerja kembali, dengan begitu beban tidak sepenuhnya didasarkan pada pemerintah. Masyarakat akan bisa menghasilkan uang sendiri.

Tapi solusi tersebut bukanlah tanpa resiko. Akan ada penambahan jumlah pasien positif, dan bahkan resiko terbesarnya adalah akan ada gelombang penularan baru yang akan terjadi ketika masyarakat sudah mulai kembali berktivitas normal. Menyikapi hal itu, maka new normal adalah solusi yang tepat untuk dilakukan, setidaknya untuk saat ini.

Ketika banyak yang mengatakan bahwa hidup berdampingan dengan Covid-19 adalah tindakan yang konyol dan mencerminkan sikap menyerah. Nyatanya masih banyak pihak yang peduli terhadap penanganan virus ini.

Penelitian untuk vaksin masih terus berlanjut, penggelontoran dana untuk menolong warga yang terdampak juga masih diberikan, dan upaya pencegahan dengan mengedepankan protokol kesehatan pun lebih gencar diberlakukan.

Pesismis adalah kata yang kurang tepat mencerminkan kondisi new normal. Pasalnya, ide new normal bukan berarti kita mengibarkan bendera putih terhadap virus ini. New normal mencerminkan bahwa manusia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan diri mereka terkukung sehingga menimbulkan masalah kesehatan yang lain, yaitu kesehatan mental dan kesehatan finansial.

Ketika seorang ilmuwan bernama Hegel dalam teori dialektika mengatakan bahwa tesis berlawanan dengan antitesis dan kemudian melahirkan sintesis, maka new normal adalah sebuah antitesis, dari tesis karantina, dan antitesis bekerja. Artinya kita menggabungkan kedua aspek tersebut dan dicari jalan tengahnya.

Meski begitu, sebuah sintesis bukanlah satu-satunya solusi yang final. Sintesis dalam jangka waktu tertentu akan berubah menjadi tesis baru dan melahirkan antitesis baru, sehingga melahirkan sintesis baru juga. Begitupun seterusnya sebagaimana teori dialektika yang dijelaskan oleh Hegel.

Dalam konteks sintesis new normal, saat ini merupakan jawaban dari pertentangan antara berdiam diri di rumah dan memulai bekerja di kantor. Antitesis tersebut dianggap efektif untuk menekan angka PHK, pengangguran, dan lesunya ekonomi di Indonesia.

Kita bekerja dengan memperhatikan unsur-unsur karantina. Kita membatasi diri untuk berkerumun meskipun kita diperbolehkan untuk beraktivitas kembali. Kita memakai masker, rajin mencuci tangan dan tidak sembarangan memegang wajah saat berada di luar ruangan.

Kita menghidari kontak fisik dengan orang lain, dan menjaga jarak terhadap orang lain sehingga memungkinkan kita untuk tidak tertular atau menulari. Itu adalah new normal. Berkegiatan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

New normal adalah langkah strategis dalam menyikapi masalah ekonomi yang tidak terprediksi.

Bukan berarti dengan mengizinkan beraktivitas kita berserah diri untuk terjangkit virus yang menyebalkan ini. Kita memiliki pilihan untuk tidak terjangkit tapi tetap bisa beraktivitas dengan memperhatikan ketentuan yang dianjurkan.

Karena pada dasarnya yang pelu kita hindari adalah penularan. Sehingga kegiatan Work From Home (WFH) adalah sebagai bentuk dari penghindaran terhadap penularan. Ketika penularan sudah bisa kita cegah tanpa melakukan WFH, maka kembali bekerja di kantor dengan new normal adalah sebuah aktivitas yang perrlu dipertimbangkan.

Belum ada Komentar untuk "New Normal, Langkah Strategis atau Ekspresi Pesimistis?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel