Saking Ndesonya, Aku Pernah Beli Pecel di Angkringan


Absurdku dan ketidakmauanku untuk bertanya kepada orang terdekatku yang sudah lama tinggal di Jogja, membuat aku harus bertindak bodoh dengan beli pecel di angkringan.

Perpindahan dari desa ke kota bagi sebagian mahasiswa baru terkadang membawa persoalan yang juga baru. Bukan dalam arti persoalan yang membawa masalah besar, tapi lebih kepada masalah yang absurd dalam proses adaptasi.

Setiap orang punya waktu tersendiri dalam melakukan proses adaptasi. Tergantung bagaimana cara dia bergaul, sejauh apa pengetahuan dia tentang tempat tersebut dan seniat apa dia untuk benar-benar ingin beradaptasi.

Tulisan ini mungkin tidak akan sesuai dengan apa yang kalian rasakan wahai mahasiswa kota. Bahkan mahasiswa yang dari desa pun mungkin tidak relate dengan ini. Jadi mahasiswa yang ndueso lah mungkin akan paham dengan ini. Hanya paham, bukan pernah.

Sebagai anak yang lahir, besar dan dididik di lingkungan pedesaan di ujung utara Jawa Timur, yang tidak mungkin menyentuh dunia perkotaan, menjadi sedikit lebih susah bagiku untuk melakukan adaptasi ketika diharuskan keluar dari desa untuk menuntut ilmu di kota. Tepatnya adalah kota Jogja.

Penyesuaian diri yang sifatnya personal tersebut bukan karena sesuatu yang ekstrem misalnya perbedaan budaya atau yang sejenisnya. Tapi lebih karena ketidaktahuanku akan dunia luar dan kecanggunganku untuk berkomunikasi dengan orang baru.

Aku pertama kali menginjakkan kaki di kota Jogja sekitar lima tahun yang lalu, tepatnya tahun 2015. Sebagai mahasiswa dan penduduk baru tentu yang kita semua cari adalah makanan. Begitupun aku, aku mencoba untuk meraba, menjilat dan mencelupkan, makanan apa dan dimana yang paling cocok. Baik dari kenyamanan di lidah maupun kenyamanan di kantong.

Aku memilih untuk membeli sebuah makanan di tempat yang serupa dengan gerobak bakso, cuman sepertinya itu bukan gerobak bakso. Mengingat banyak bapak-bapak berkumis yang duduk mengelilingi. Aku sebelumnya tidak tahu (angkringan) dan itu pertama kalinya aku melihat sebuah gerobak statis yang menjual makanan. Maklum di tempatku tidak ada warung semacam itu.

Ibu-ibu penjualnya memakai daster bunga-bunga dengan ramah menyapa dan mempersilahkanku untuk duduk dan ikut bergabung bersama bapak-bapak berkumis yang tengah menyantap hidangan didepannya. Sambil bola mata melihat kiri kanan dan sedikit mendudukkan kepala dengan wajah canggung, aku jawab “hehe enggih buk”, (iya bu).

Menu yang ditawarkan dan dihamparkan di gerobak itu buuanyak sekali. Tapi tidak ada satupun yang menggugahku untuk menyantapnya. Ada tempe warna hitam kecoklatan, ada tahu yang terlihat seperti gosong tapi tidak kering, dan ada juga nasi yang dibungkus seukuran tikus mouse komputer.

Tapi sebagai orang yang lahir dan besar di budaya di Jawa Timur, senjata ketika tidak ada menu yang menggairahkan adalah dengan pesan makanan kebanggaan kita bersama yaitu permen sugus pecelll. Aku kemudian bertanya ke ibu-ibu penjaganya, “bu nyuwun pecel setunggal, bungkus nggih” (bu minta pecelnya satu, dibungkus ya).

Bapak-bapak kumisan sampingku terlihat menundukkan kepala dan nampak seperti ada getaran di punggung mereka. Awalnya aku kira blio-blio ini tersedak karena terlihat sedang asyik makan dan ngobrol kesana kemari.

Sampai aku sadar bahwa ternyata mereka sedang menertawakanku sejak aku pergi dari gerobak tersebut setelah ibu penjualnya menjawab “maaf mas, ini angkringan. Jadi tidak jual nasi pecel”. Itu adalah pertama kalinya aku mendegar kata angkringan. Asyemm, kataku dalam hati. Aku kemudian pergi dan tidak malu dengan tindakanku, malah aku sedih karena pada akhirnya aku tidak jadi makan.

Tapi, tragedi plus waktu adalah komedi. Ketika kejadian itu telah lewat, aku merasa apa yang dulu pernah terjadi itu ternyata lucu. Absurdku dan ketidakmauanku untuk bertanya kepada orang terdekatku yang sudah lama tinggal di Jogja, membuat aku harus bertindak bodoh dengan beli pecel di angkringan.

Analoginya seperti kita beli pembalut di rumah makan padang. Atau kita beli martabak di pom bensin. Sama-sama tidak nyambung.

Yang bisa kita pahami adalah bahwa tingkat kemampuan orang dalam beradaptasi itu tergantung kepada kemampuan orang tersebut dalam bermanipulasi berkomunikasi dan bersosial.

Aku ketika pertama kali menginjakkan kakiku di Jogja masih terkukung dengan kemaluanku rasa malu ku untuk bertanya, bersosial dan mencoba akrab dengan orang baru. Bahkan untuk nyebrang di zebra cross dan dilihatin bapak-bapak yang lagi nunggu lampu merah saja aku malu. Syemm.


Artikel ini pernah dimuat di Terminal Mojok

Belum ada Komentar untuk "Saking Ndesonya, Aku Pernah Beli Pecel di Angkringan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel